Thursday, 23 June 2016

Buka Bersama Teknik Sipil “Kelas B” Angkatan 2011 UIR

Teknik Sipil Kelas B Angkatan 2011
Sabtu 23 Juni 2016, akhirnya kami kembali dipersatukan dan dikumpulkan di luar kelas. Nah itulah sekiranya kesan yang aku dan teman dapatkan dari acara buka bersama yang baru saja kami adakan petang tadi. Ini merupakan buka puasa bersama teman kelas ditahun ini. Bisa dibilang inilah formasi terakhir kami di Program Studi Teknik Sipil kelas B. Meskipun ada beberapa teman yang belum bisa ikut karena ada kegiatan lain atau telah pulang kampung alias mudik.

Aku sebut formasi terakhir sebab saat ini merupakan tahun kelima kami menyelesaikan studi kami. Dan inilah diantaranya wajah-wajah yang masih setia bertahan hingga saat ini. Bertahan menghadapi gempuran tugas maupun laporan selama lima tahun ini. Bertahan dari ancaman nilai D atau E. Bertahan diantara ruang 3.36 sampai ruang 3.40. Dan bertahan dari beberapa pertanyaan kapan wisuda??.

Namun inilah kami, dengan segala kesibukan kami, masih menyempatkan waktu untuk berkumpul dalam agenda buka bersama. Dilanjutkan foto bersama keluarga besar Teknik Sipil Uir kelas B. Serta kemudian nongkrong bersama teman-teman. Momen biasa yang kebanyakan orang lakukan.

Namun hari ini sangat beda. Setelah beberapa bulan tidak sering berjumpa karena sibuk dengan kegiatan masing-masing, hari ini kami melepas kerinduan yang mungkin momen ini ntah kapan bisa terulang kembali. Mengingat kami para calon insinyur muda sudah berada di semester akhir.

Sekali lagi aku pribadi memberikan acungan jempol kepada kalian teman-teman. Diujung semester yang tak muda lagi ini kita masih dipertemukan. Masih diberi kesempatan untuk meluapkan segala kekonyolan serta tingkah kocak kalian. Semoga kalian selalu mengingatnya dikemudian hari para sahabat.

Aku yakin ini akan menjadi momen terbaik kita diantara momen yang telah teman-teman ukir diluar sana. Mungkin suatu saat nanti tak sedikit dari kita yang bakal terurai air mata saat melihat foto-foto itu kembali. Dan ini beberapa foto-foto kami.
Udah pada ngiler ni liatin yg seger2 hehe
Liat nih ekspresi kami, imut kann??
Selfie cantik duluu
Para puteri cantik kelas B
Udah gatal nih muka pengen di cekrek2 wkwk
Nongkrong dulu sambil nunggu sahuur
Selfie lagi niihh


Wednesday, 27 April 2016

Surga Tersembunyi Di Air Terjun Pulo Simo Kampar

Riau, sebagai provinsi yang dijuluki negeri kaya minyak, baik itu minyak yang terkandung di dalam perut bumi maupun minyak kelapa sawit yang menghampar luas di daratan bumi lancang kuning. Masih banyak menyimpan deretan potensi wisata alam nan eksotis tersebar di pelosok daerah yang belum banyak diketahui dan diekspos, salah satunya Air Terjun Pulo Simo.
Air Terjun Pulo Simo terletak di Kabupaten kampar, tepatnya di kawasan bukit barisan Desa Tanjung Alay Kecamatan XIII Koto Kampar Kabupaten Kampar. Air terjun pulo simo memiliki panorama alam yang mempesona, airnya jernih dan segar, jauh dari polusi udara. Sungguh membuat mata indah memandang dan ingn berlama-lama bermain air yang sejuk. Itulah kira-kira gambaran keindahan air terjun yang akan kami kunjungi.
Untuk mencapai lokasi Air Terjun Pulo Simo, kita dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Sebab lokasi air terjun ini cukup dekat dari jalan lintas Riau – Sumbar. Pagi itu Sabtu 23 April 2016, aku dan teman-teman memutuskan untuk berangkat menuju lokasi wisata menggunakan kendaraan roda dua yang beranggotakan delapan orang. Dengan empat kendaraan kami berangkat dari Kota pekanbaru pukul 08.30 WIB.

Perjalanan menuju Air Terjun Pulo Simo ini seharusnya dapat ditempuh dalam waktu 2 setengah jam, namun dalam perjalanan kami harus berhenti dikarenakan diguyur hujan yang sangat lebat. Namun hal ini tak sedikitpun mengurangi semangat kami untuk melanjutkan perjalanan. Hujan pun mulai reda, meskipun masih gerimis kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami menuju lokasi air Terjun. Tak sabar rasanya ingin segera menikmati jernihnya air terjun tersebut.
Setelah menyusuri jalan lintas Riau – Sumbar yang meliuk-liuk dan naik turun, akhirnya aku dan teman-teman melihat plang dan baliho di sebelah kiri jalan yang bertuliskan Selamat Datang Di Objek Wisata Air Terjun Pulo Simo. Aku pun langsung mengurangi kecepatan kendaraan dan belok kiri masuk ke jalan tepat di depan plang tersebut. Namun entah karena tidak melihat plang tersebut atau terlalu asik mengendarai sepeda motor, empat rekan kami lurus saja tanpa muka bersalah. Sampai akhirnya mereka sadar bahwa aku dan teman yang lain udah belok, barulah sambil tertawa mereka berputar arah mengikuti kami.

Kemudian kami masuk melewati jalan tanah yang sedikit agak menanjak tersebut sambil mengikuti petunjuk arah yang ada. Hanya berkisar kurang lebih 200 meter sampailah kami di tempat parkir yang disediakan bagi wisatawan Air Terjun pulo Simo. Kami pun langsung memarkirkan kendaraan kami di tempat parkir yang dijaga oleh pengelola objek wisata air terjun tersebut dengan tarif Rp 3000/kendaraan. Selain tempat parkir yang tersedia, didekat tempat parkir tersebut ada beberapa pedagang yang menjajakan makanan ringan dan minuman. Sehingga bagi anda tidak perlu khawatir jika seandainya lupa membawa minuman.

Dari sini aku dan teman-teman kemudian menuju ke loket penjualan tiket yang dipatok seharga Rp 5000/orang. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuruni jalan setapak yang berjarak kurang lebih 50 meter dari loket penjuakan tiket. Sambil menyusuri jalan setapak yang sedikit terjal ini, suara riuh air terjun terdengar siap menyambut kedatangan kami. Suasana dingin air serta sejuknya udara diantara pepohonan nan rindang melengkapi pesona keindahan air terjun ini.

Sesampainya di air terjun yang memiliki tinggi 12 meter ini aku dan teman-teman beristirahat sejenak sambil menyantap makan siang yang sengaja kami bawa. Sambil menikmati makanan sembari mendengarkan riuh air terjun yang yang jatuh di bebatuan cadas nan indah ini, aku sadar akan kekayaan alam yang telah Allah beri untuk bumi Riau ini. Sudah sepatutnya kita sebagai manusia untuk menjaga dan merawatnya untuk anak cucu kita kelak.

Pesona indah air terjun yang kami sambangi ini membuat aku dan teman-teman ingin segera menyeburkan diri ke kolam di bawah air terjun tersebut. Namun sebelum itu tak lupa dong kami mengabadikan gambar dengan berfoto ria, hehe. Bagi anda yang ingin berganti pakaian saat hendak berenang jangan khawatir, disini tersedia beberapa tempat untuk mengganti pakaian dengan tarif Rp 1000/orang.

Terima kasih ya Allah telah diberi kesempatan untuk melihat keindahan-Mu, semoga aku, teman-teman dan generasi penerus kami bisa selalu menjaga dan merawat semua ciptaan-Mu, Amiin.


Gimana perjalanan kami?? 
Apakah anda ingin mencobanya? Ditunggu kedatangan anda selanjutnya.

By: Arda Dwi cahyo Ruspianof


Tuesday, 19 April 2016

Kehidupan Anak Kost Part 2 (11 Tahun Berstatus Anak Kos)

Bagaimana kehidupan menjadi anak rantau alias anak kos?? Biasa saja, menyenangkan atau bahkan menderita. Semua jawaban itu tergantung pribadi diri kita masing-masing. Sebab beda orang maka beda pula rasanya. Aku disini mau bercerita tentang diri aku yang juga menjadi anak kos, dan sampai sekarang masih menikmati yang namanya menjadi anak kos.

Bercerita soal anak kos, aku teringat awal mula lulus SD saat hendak melanjutkan sekolah di MTs. Dimana saat itu tahun 2005 aku lulus dari SD, dan ingin melanjutkan belajar di sebuah sekolah di Kota Pasir Pengaraian yang lumayan agak jauh dari kampung. Meskipun di kampung aku ada sebuah SMP pada saat itu, namun karena masih berstatus swasta maka orang tua menganjurkan untuk memilih sekolah lain meskipun jauh, hal inilah yang mengharuskan aku menjadi anak kos untuk pertama kalinya.

Setelah tiga tahun berselang, aku lulus dari sekolah tempat aku menuntut ilmu tahun 2008. Tentunya tiga tahun pula aku menyandang gelar sebagai anak kos, hehe. Namun status anak kos yang aku sandang nggak sampai disitu aja. Hal ini berlanjut saat aku masuk SMA di Dusun Kumu Kecamatan Rambah Hilir. Berjarak lebih jauh lagi dari kampung, maka menuntut aku untuk menjadi anak kos lagi selama tiga tahun.

Tiga tahun di SMA pun telah aku nikmati, tentunya enam tahun berstatus menjadi anak kos telah aku sandang. Bangga?? Nggak juga, biasa aja kok. Pada tahun 2011 saat itu aku lulus SMA, dan Alhamdulillah aku sangat bersyukur karena diberi nikmat untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Hal inilah yang menambah panjang status aku menyandang gelar anak kos. Aku melanjutkan studi aku di salah satu Perguruan tingggi di Kota Pekanbaru.

Hari ini sengaja mengingat beberapa tahun lalu saat aku pertama kalinya menjadi anak kos, jauh dari orang tua. Hari ini pula aku sadar, ternyata aku telah menghabiskan separoh dari umur aku saat ini menjadi anak kos. Jika aku boleh berhitung, saat ini aku berumur 22 tahun. Berarti sudah 11 tahun aku menyandang status menjadi anak kos. Menurut aku itu bukan hal yang sebentar, banyak cerita suka duka, tangis tawa maupun hal lain yang udah aku alami selama ini. Aku banyak belajar akan semua hal yang udah aku jalani. Aku yakin semua nggak ada yang sia-sia.

Jujur aku sedih saat menulis postingan ini. Memori aku mengingat kejadian-kejadian yang udah aku alami sejak aku menjadi anak kos. Bukan hal yang buruk, namun aku sedih karena mengingat dua sosok yang selalu memberikan motivasi aku selama ini. Sosok yang selalu mendukung aku selama ini hingga saat ini. Tanpanya aku bukan apa-apa. Iya, mereka tentu orang tua aku, Bapak dan Ibu aku. Sosok yang selalu membuat aku kuat dan membuat aku semangat jalani semua ini. Tanpa sadar saat menulis postingan ini, aku mengingat mereka, aku merindukan mereka. Aku berharap, Allah selalu memberikan kesehatan dan umur panjang bagi mereka. Amiin.

Salam Anak Kos!!!

Monday, 18 April 2016

Ayok Jalan-Jalan

Hai para sahabat arda rokan, apa kabar di sore yang cerah ini?? Ya kelihatan sore ini langit nampak begitu cerah berwarna biru. Tampak beda sekali dengan hari kemarin yang dari pagi udah diguyur hujan lebat hingga beberapa jam. Alhasil rumah kontrakan teman menjadi korban kebanjiran. Sabar ya Arie Arbenx, hehe. Jadikan semua itu pelajaran, lain kali persiapkan diri sebelum hujan, angkat barang-barang ke tempat tinggi ya sob, dan jangan lupa sediakan makanan buat jaga-jaga, wkwkwk.

Nah disore yang cerah ini nggak ada kegiatan sih, Cuma tiduran sambil numpang nonton TV aja di kos teman. Itung-itung sambil ngumpul sama teman-teman. Mau ngerjain TA juga lagi mentok, jadi ya mending memposting tulisan aja, hehe. Tapi nggak tau juga mau nulis tentang apa.

Sebetulnya dari beberapa hari yang lalu teman udah pada bisik-bisik mau ngadain jalan-jalan. Mumpung ada kesempatan ngumpul, untuk refreshing otaak laahh, hehe. Cuma ya itu masalahnya, banyak banget planningnya, mau ke Sumbarlah, ke Siaklah, ke Kamparlah. Ehh karna kebanyakan planning ya ujung-ujungnya gak ada yang jadi.

Saturday, 20 February 2016

Catatan Mahasiswa Akhir Teknik Sipil (Part 1)

Seiring berjalannya waktu akhirnya kita sampai saat dimana kita menjadi mahasiswa tingkat akhir. Saat dimana kita telah berada dimasa transisi antara berstatus menjadi mahasiswa dan bakal memperoleh gelar yang selama ini banyak orang memimpikannya. Termasuk dengan aku yang saat ini telak masuk semester sempurna dibangku perkuliahan aku. Tak perlu dong sebutin semester berapa, yang jelas mungkin menurut kalian disemester ini seharusnya mahasiswa udah pada lulus. Namun bagi kami ini baru awal perjuangan.

Aku adalah mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Jurusan Teknik Sipil. Jurusan yang memang terkenal keras. Bukan karena dijurusan ini lebih banyak mahasiswa laki-lakinya. Namun karena di jurusan ini memang semuanya sulit. Sulit mendapatkan nilai karena memang hampir seluruh mata kuliahnya menghitung. Jadi kalkulator tekniklah benda wajib yang harus dibawa kemanapun. Jika tidak, jangan harap bisa masuk kelas dan bisa mengerjakan semua tugas.

Kemudian dijurusan ini kita harus dituntut untuk menjadi manusia yang teliti dalam semua hal, mulai menggambar atau memeriksa angka-angka yangg sudah menjadi makanan sehari-hari. Jurusan ini juga banyak menyita waktu, pikiran, tenaga dan tentunya uang. Imana tidak, hampir setiap mata kuliah kita harus menyelesaikan tugas yang banyaknya setebal novel. Lebih parahnya lagi wajib tulis tangan. Belum lagi jika adagambar tabel maupun grafik, semuanya juga wajib ditulis tangan.

Nah itu masih tugas, belum tiap buat laporan praktikum. Dimana kita harus mengerjakan laporan itu juga wajub tulis tangan + ketik. Brarti harus ada dua versi laporan yang kita buat. Amazing bukan?? Sebenernya bukan sampai sini aja perjuangan yang dialami mahasiswa jurusan ini. Namun mungkin buat teman-teman pembaca ini dulu deh, biar tak begitu kaget mendengarnya, hehe.

Nantikan sambungan postingannya dijudul Catatan Mahasiswa Akhir Teknik Sipil (Part 2) yahh.

Salam Teknik !!!

Friday, 19 February 2016

I'm Back

Saat jemari ini kembali diberikesempatan menyentuh deretan huruf- huruf yang ada di keyboard laptop, pikiran ini tidak sejalan dengan apa yang sedang aku rasa. Ingin rasanya mencurahkan isi yang ada dalam kepala selama ini. Namun entah mengapa tiba-tiba semua pudar begitu saja. Mungkin sudah begitu lama tidak merangkai kata-kata dalam sebuah tulisan.

Benar sekali, mungkin karena sudah terlalu lama vakum menulis. Jadi pikiran dan tangan ini terasa membeku dan susah digerakkan, hehe. Maklumlah si penulis lumayan lama liburan. Sejak tahun baru liburan keliling dunia hingga saat ini. Sungguh semua itu menguras tenaga dan pikiran. Dan tentunya menguras isi dompet, hahaha.

Bukan-bukan, si penulis hanya sejenak pulang dari perantauan yakni ke kampung halaman tercinta. Mencurahkan kerinduan bersama keluarga tercinta, melihat kenangan-kenangan indah dimasa kecil dan tentunya merefresh otak ini dari hiruk pikuk dan kesibukan yang ada di kota selama ini.

Sunday, 29 November 2015

Alam Bercerita

Hari ini langit tampak sangat cerah. Awan putih bergerumbul di langit biru yang cerah. Terik matahari menyengat kulit dengan sangat panasnya. Hembusan angin sepoi-sepoi terasa sedikit membuat badan ini segar. Dibawah rimbun pohon-pohon rindang aku bersama beberapa teman kembali beraktifitas menimba ilmu disalah satu kampus di Pekanbaru ini.

Tak ada yang istimewa memang, sekilah biasa saja. Namun jika kita menilik beberapa pekan yang lalu, kampus dan beberapa intansi lain di provinsi Riau dan sekitarnya ini sempat lumpuh. Tak lain karena kabut asap. Miris memang jika kita mengingatnya.

Namun hari ini setelah semua itu berlalu, kini giliran berbagai media menyiarkan kabar tentang banjir. Kabut asap hilang seketika diterpa hujan deras beberapa hari. Semuanya berlalu begitu saja, namun timbul persoalan baru, yakni banjir dibeberapa daerah. Kabar tentang asap, si pembakar hutan dan korban asap hilang seketika bak ditelan bumi. Entah semua itu hilang pemberitaannya saja, atau apa aku tak tahu pasti.