Thursday, 15 December 2016

Alhamdulillah, Satu Tahap Terlewati

Pagi ini, hari kamis tanggal 15 Desember 2016 merupakan salah satu hari penting bagiku. Karena pada hari ini salah satu tahap akan aku lalui di bangku kuliah, yaitu Seminar Hasil Tugas Akhir. Salah satu tahap yang harus dilalui sebelum menuju ke tahap berikutnya, demi memperoleh gelar Sarjana Teknik (ST).

Sekitar pukul 06.00 WIB aku telah ready, kemeja putih lengan panjang lengkap dengan setelan celana goyang hitam telah aku kenakan. Dasi dan peci hitam pun ikut melengkapi setelan penampilanku di pagi yang cerah ini. Terakhir, sepatu kulit hitam menyempurnakan styleku sebelum menuju ke kampus.

Dengan perasaan senang bercampur dag dig dug aku menuju ke kampus. Pagi ini terasa beda, mungkin pengaruh perasaan grogi yang menyelimutiku menyebabkan semua ini terjadi. Maklumlah, pagi ini untuk pertama kali aku harus menghadapi penguji-penguji yang siap menguji Tugas Akhir yang kurang lebih sembilan bulan aku kerjakan. Udah kayak ibu mengandung aja ya, hehe.

Detik jarum jam pun sudah menunjukkan pukul 08.30 WIB para dosen pembimbing dan penguji sudah memasuki ruangan sidang dan memulai acara Seminar Hasil. Aku pun memasuki ruang sidang bersama rekan yang juga akan melakukan sidang. Jadi dalamkesempatan ini ada dua mahasiswa yang melakukan seminar hasil.

Setelah kami berdua melakukan persentasi Tugas Akhir masing-masing, dan setelah sesi tanya jawab oleh tiga tim dosen penguji dan sanggahan dari dua orang dosen pembimbing selesai. Selanjutnya pengumuman dari seminar hasil, dan Alhamdulillah kami berdua dinyatakan lulus dengan revisi. Itu artinya kami harus merevisi Tugas Akhir sebelum dilanjutkan dengan Sidang Komprehensif, yang mana merupakan sidang penentuan untukmendapatkan gelar Sarjana Teknik (ST).


Alhamdulillah, satu tahap selesai. Semoga sidang selanjutnya yaitu Sidang Komprehensif bisa segera kami laksanakan. Amiin.

Monday, 5 December 2016

Makna Terindah Dibalik Kata Acc

Ketika kita berbicara tentang skripsi maka kita tidak akan jauh-jauh dari dunia mahasiswa, mengapa? Sebab dunia mahasiswa adalah dunia yang melatih kemampuan intelektualitas sejak semester awal. Apabila mahasiswa memasuki semester 7 atau seterusnya maka akan ada kata yang mendebarkan yang sangat dinantikan khususnya mahasiswa semester akhir. Kata yang digadang-gadang lebih indah dari segala kata. Kata yang merupakan kata yang lebih menyenangkan dari kata I LOVE YOU, I MISS YOU dan lainnya. Mengapa begitu? pasti yang pernah menjadi mahasiswa akan paham maksud aku.

Jadi begini, ketika para mahasiswa mulai mengajukan judul skripsi, maka akan ada rasa deg-degan yang menggebu-gebu. Karena menanti sebuah jawaban dari Prodi. Hal itu ditunggu sampai berminggu-minggu, ada yang diterima dan tidak sedikit pula yang ditolak. Kalau judul diterima atau di ACC oleh prodi, itu merupakan penghargaan pertama yang tiada tara, hehe.

Ternyata kata ACC itu terulang kembali pada saat bimbingan skripsi. Setelah kita berjibaku selama berbulan-bulan, setelah ngerjain penelitian yang seambrek, setelah revisi berkali-kali, setelah kita berulang kali memperbaiki skripsi kita, maka saat tinta dosen tersebut mengukir tiga huruf dengan kata ACC dilembar bimbingan kita, waahh rasanya kata itu lebih indah dari kata I LOVE YOU. Hahahaha lebay

Saturday, 19 November 2016

Sepenggal Kisah Harimau Paderi Dari Rokan, Tuanku Tambusai

Tuanku Tambusai
Tuanku Tambusai lahir di Dalu-dalu, Kabupaten Rokan Hulu, Riau pada 5 Oktober 1784 dari pasangan Ibrahim dan Munah. Ayahnya, seorang pejabat tinggi agama di kerajaan Tambusai. Sebagai seorang pemuka agama Islam, ia mengajarkan pendidikan agama kepada anak-anaknya dengan penuh kedisiplinan. Tuanku Tambusai yang awalnya dikenal dengan nama Muhammad Saleh ini juga diajari beladiri, termasuk ketangkasan menunggang kuda sejak usianya masih belia. Bukan hanya beladiri dan menunggang kuda, tata cara bernegara pun dipelajarinya dengan tekun.
Untuk lebih memdalami ilmu agamanya, Muhammad Saleh pergi menuntut ilmu ke Bonjol (sekarang Sumatera Barat) kemudian pindah lagi ke Rao. Di sana ia berguru pada beberapa ulama dan berkenalan dengan tokoh paderi, Tuanku Imam Bonjol.
Gelar Tuanku pun disandangnya karena tingkat keilmuannya yang tinggi dalam bidang agama. Dengan gelar itu ia ditugasi sebagai Panglima Paderi di Rao. Tuanku Tambusai, selain seorang panglima, ia juga merupakan salah seorang dari empat orang paderi yang berangkat ke Mekah di tahun 1820-an untuk mempelajari perkembangan pemikiran Islam di Tanah Suci.
Di berbagai tempat yang sekarang termasuk dalam administratif Riau, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara ia mengadakan perlawanan terhadap penjajah. Dalam Perang Paderi (1821-1830), Tuanku Tambusai membawa pasukan yang beroperasi di bagian utara Sumatera Barat. Kemudian mengawali penyerangan terhadap Inggris di Natal (Sumatera Utara) pada tahun 1823.
Pada akhir tahun 1826, tentara Belanda tidak bisa dengan tenang masuk ke wilayah Natal karena dihadang oleh Tuanku Tambusai. Meskipun Natal sudah diserahkan Inggris ke tangan Belanda sesuai dengan Traktat London 1824.
Pada tahun 1830, Tuanku Tambusai bergabung dengan pasukan Rao setelah mengamankan wilayah Natal-Airbangis. Dengan cepat ia memimpin kekuatan di Dalu-dalu (Riau), Lubuksikaping, Padanglawas, Angkola, Mandailing, Pangkalpinang dan Natal. Tuanku Tambusai dan Rao kemudian mendirikan benteng yang terdiri dari tujuh lapis bambu terletak di Dalu-dalu. Namun pada September 1832, benteng itu jatuh ke tangan Belanda. Tuanku Tambusai memboyong pasukannya ke Tapanuli Selatan. Setelah Tuanku Rao gugur dalam pertempuran di Airbangis, praktis Tuanku Tambusailah yang memimpin pasukan Paderi di bagian utara Sumatera Barat.
Setelah Belanda mengangkat Tuanku Mudo (anak Tuanku Imam Bonjol) menjadi Regent Bogor, Tuanku Tumbasai sempat memimpin paderi pada tahun 1832. Dalam rentang waktu 15 tahun, tokoh paderi ini memporak-porandakan pasukan Belanda sehingga musuh berkali-kali harus meminta bantuan dari Padang dan Batavia. Pada tahun 1834, ia mulai mendirikan serangkaian benteng di Dalu-dalu, (Kabupaten Rokan Hulu saat ini).
Pada tahun 1835, pasukannya mengepung kedudukan Belanda di Rao dan Lubuk Sikaping sehingga pasukan Belanda antara satu tempat dan tempat lain terputus. Adakalanya ia menyerang pos-pos militer Belanda di Tapanuli Selatan sehingga kekuatan Belanda yang mengepung Bonjol menjadi terpecah. Namun, pada Agustus 1837, Bonjol jatuh ke tangan Belanda.
Ia juga terkenal dengan kecerdikannya, hal itu terbukti dengan dihancurkannya benteng Belanda Fort Amerongen. Meskipun tak berlangsung lama, Bonjol yang telah jatuh ke tangan Belanda dapat direbut kembali. Karena keberaniannya itu, ia dijuluki sebagai de padrische van Rokan yang berarti Harimau Paderi dari Rokan oleh Belanda.
Gerbang Menuju Benteng Tujuh Lapis
Pada awal tahun 1838, pasukan Belanda menyerang Dalu-dalu dari dua arah, yakni Pasir Pengaraian dan dari Tapanuli Selatan. Serangan itu gagal karena Tuanku Tambusai sudah mendirikan benteng berlapis-lapis. Serangan berikutnya dilancarkan Belanda pada Mei 1838. Beberapa benteng dapat mereka rebut, namun Belanda memerlukan waktu beberapa bulan lagi sebelum perlawanan Tuanku Tambusai dapat mereka akhiri. Pada 28 Desember 1838, benteng pertahanan terakhir yang saat ini dikenal dengan Benteng tujuh Lapis di Dalu-dalu jatuh ke tangan Belanda. Namun ia berhasil meloloskan diri dari kepungan Belanda dan para sekutu-sekutunya lewat pintu rahasia menuju Sungai dan menuju hilir Sungai Rokan.
Di usianya yang telah cukup renta, 98 tahun, ia kemudian mengungsi ke Seremban, Malaysia. Ia meninggal dunia pada 12 November 1882 di Negeri Sembilan, Malaysia. Atas jasa-jasanya pada negara, Tuanku Tambusai diberi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 071/TK/Tahun 1995, tanggal 7 Agustus 1995.
Makam tuanku Tambusai di Seremban, 
Negeri Sembilan, Malaysia
Sumber: Ensiklopedi Tokoh Indonesia

BLOK D 36

Terik matahari hari ini semakin panas, pancaran sinarnya mulai masuk diantara lubang fentilasi maupun kaca jendela. Udara menyengat semakin terasa. Desusan bunyi kipas angin tak henti berputar mendinginkan ruangan yang semakin panas. Menandakan aku sedang berada di Kota Pekanbaru yang terkenal dengan cuaca panasnya. Gak tau saat ini suhu menunjukkan angka berapa, yang jelas tetap membuat peluh keringan dikeningku.
Di dalam ruangan yang tidak begitu besar inilah aku mengasingkan diri. Ruangan persegi panjang dengan ukuran 2,5 x 3,5 meter inilah aku menghabiskan waktu dari hiruk pikuk dan menyengatnya udara Kota. Terkadang terasa membosankan berada di dalam ruangan yang dipisahkan oleh dinding. Sesekali aku coba keluar, namun aku ingin kembali lagi menikmati kasur empuk dalam ruangan ini.
Terkadang pula terdengar berisik dan terikan dari ruang-ruang dibalik dinding penyekat ini. Suara musik, gelak taua maupun obrolan selalu terdengar dari ruangan dimana aku berada. Namun sesekali waktu suara-suara itu lenyap, berganti sunyi saat tengah malam telah tiba. Dan terdengar lagi saat pagi tiba.
Blok D 36. Nomor yang terdapat disebelah pintu utama bangunan ini. Saat pintu utama ini dibuka, tampaklah sebuah ruangan yang luas tanpa penyekat. Luasnya kira-kira 5 x 4 meter. Kemudian terdapat 4 ruangan di sisi kanan dan kirinya, 2 disebelah kanan dan dua disebelah kiri. Tampak juga satu ruangan kecil ukuran 1 x 1,5 meter diantara dua ruangan disebelah kanan ruangan yang cukup luas ini. Jika pandangan kita arahkan kebelakang ruangan yang luas ini, tampak lagi ruangan yang lebih kecil dibelakang dinding penyekat yang dipisahkan oleh pintu. Dan disebelah ruangan kecil ini terdapat ruangan lagi dengan ukuran 1,5 x 1,5 meter.

Bangunan ini memiliki cat warna abu-abu dibagian luar dan cat putih dibagian dalamnya. Bangunan yang cukup bersih dengan lantai keramik ini selalu menjadi lalu lalang penghuninya setiap waktu. Semua orang biasa menyebutnya Blok D36, disini aku menghabiskan waktu empat tahun terakhir bersama 3 teman yang lain (Arda, Bisma, Gusnanda & Ramanda). 

Saturday, 12 November 2016

Sejarah Nama Pasir Pengaraian

Sekitar tahun 1901 Pasir Pengaraian mulai diketahui orang. Pasir Pengaraian adalah Ibukota Kecamatan Rambah sekaligus Ibukota Kabupaten Rokan Hulu. Pada tahun 1899 terjadi bencana alam di Negeri Rambah yaitu kelaparan dan penyakit sehingga masyarakat sekitar banyak meninggal dan juga sakit – sakitan. Dahulu orang daerah ini berladang dari Rambah membawa keluarga mereka dengan bekal sedikit untuk mengelilingi Sungai Rokan Kanan atau yang lebih dikenal dalam bahasa melayu Rambah yang disebut dengan Sungai Batang Lubuh. 
Sungai ini dahulu sebagai urat nadi perekonomian masyarakat Rambah, yang digunakan sebagai sarana transportasi sebelum di bukanya akses jalur darat. Karena di Sungai Batang Lubuh ini banyak mengandung emas, yang di bawa dari hulu sungai yang  bercampur dengan pasir maupun yang di bawa langsung oleh arus sungai yang deras. Menurut cerita masyarakat yang tinggal di tepian sungai Batang Lubuh selama puluhan tahun dan beberapa saksi yang mengatakan bahwa pada akhir tahun 1970 samapai awal tahun 1980-an, sebagian masyarakat masih ada yang menambang emas secara tradisional di Sungai Rokan kanan.
Adapun alat yang digunakan adalah semacam saringan yang berlobang kecil yang berguna untuk memisahkan antara pasir dan partikel emas yang terbilang kecil. Dalam bahasa melayu Rambah di sebut ayakan, adapun teknik yang digunakan disebut pengiraian. Setelah sekian lama aktifitas penambangan tradisional ini berlangsung, akhirnya emas yang ada di sungai Batang  Lubuh ini perlahan susah untuk di temukan, atau dalam bahasa melayu rokan berarti olah habih (sudah habis). 
Akhirnya yang ada hanya pasir saja yang ditemukan di tempat pengiraian tambang emas milik masyarakat. Unding punya unding akhirnya masyarakat sekitar sepakat memberi nama daerah ini Pasir Pengiraian. Nama ini bertahan cukup lama dan akhirnya nama tersebut disempurnakan dengan nama PASIR PENGARAIAN sampai sekarang. Pasir Pengaraian saat ini sudah menjelma menjadi kota yang indah dan berkembang menjadi Ibukota Kabupaten Rokan Hulu.
Berikut merupakan foto-foto sudut Kota Pasir Pengaraian.
Hotel Sapadia, Salah satu hotel di Kota Pasir Pengaraian
Gerbang Komplek Perkantoran Rokan Hulu Di Kota Pasir Pengaraian dengan jalan sangat lebar
Bandara Tuanku Tambusai
Masjid Agung Madani Islamic Centre Pasir Pengaraian yang menjadi ikon Kota Pasir Pengaraian
Kantor Bupati Rokan Hulu di Kota Pasir Pengaraian dengan halaman super luas
Pasar Modern pertama di Kota Pasir Pengaraian
Tugu Ratik Togak di bundaran Kota Pasir Pengaraian


Sumber:

Monday, 17 October 2016

Detik Detik Semester Akhir

Pernahkan kalian mendengar detik-detik ujian nasional? Tentu sudah bukan? Pasti bagi kalian yang telah menyelesaikan bangku sekolah kata-kata tersebut sangat familiar. Nah, jika ada kata detik-detik semester akhir gimana? Pernahkan kalian semua mendengarnya? Atau bahkan mengalaminya?

Jawabnya pasti nggak pernah, hehe. Namun bagiku itu ada, detik detik semester akhir ini aku sematkan kepada semua mahasiswa yang telah menginjak semester akhir. Mengapa demikian?? Tentu ada alasan dan ini versi aku pribadi, karena aku juga salah satu yang mengalaminya.

Berbicara menganai semester akhir pasti tidak akan lari dengan yang namnya proposal, tugas akhir atau skripsi, revisi, bimbingan, seminar dan sidang akhir. Proses untuk mendapatkan titel Diploma, Sarjana bahkan Master tidak ada yang mudah sobat, jalannya pasti berliku dan terjal, bisa dibilang seperti mengendarai motor butut mendaki bukit. Tak ada yang megalir dengan sendirinya seperti air terjun yang menuruni lembah. Eiits puitis pula, hehehe

Ada sebagian mahasiswa yang dalam sehari menunggu dosen pembimbing dari pagi hingga menjelang petang namun tak membuahkan hasil. Mau gak mau harus menunggu esok harinya lagi. Jadi seharian hanya duduk diam dan terpaku mantengin pintu ruangan dosen pembimbing tanpa tahu kapan pemilik nya datang dan membuka pintu tersebut. Sedih amat yaa.


Namun demikian percayalah sobat, semua usaha dan doa kita pasti akan membuahkan hasil pada waktunya nanti. Intinya kita harus optimis dan tidak patah semangat menghadapinya. Semoga aku, kita dan kalian semua yang ada di luar sana yang sama-sama lagi berjuang selalu diberi kesehatan selalu, agar apa yang kita cita-citakan terwujud, Amiin.

Saturday, 15 October 2016

Berwisata Ke Air Terjun Katobung Bersama HIMAKEPJA

Tepat pada tanggal 19 Agustus 2016 saya dan teman teman dari Himpunan Mahasiswa Kepenuhan Jaya (HIMAKEPJA) berkesempatan meluangkan waktu untuk berkunjung ke objek wisata Air Terjun Katobung. Air Terjun Katobung ini berada tepatnya di Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara. Kebetulan Kabupaten ini berada berbatasan dengan Kabupaten Rokan Hulu yang masuk Wilayah Provinsi Riau.

Saya dan teman teman berangkat beranggotakan 15 orang. Dengan menggunakan kendaraan roda dua kami berangkat menuju objek wisata melalui Kota Pasir Pengaraian. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Desa Tangun yang ada di Kecamatan Bangun Purba. Dari Tangun Sekitar 15 menit akhirnya kami sampai ditepi sungai, dimana dari sungai inilah perjalan dilanjutkan dengan menggunakan sampan selama 2 jam menuju air terjun.
Persiapan Sebelum Memulai Perjalanan
Nah itu dibelakang sampannya udah siap berangkat bro
Menyusuri sungai menuju ke hulu
Karena Sungai Dangkal Terpaksa jalan kaki
Ngopi dulu dingin-dingin
Ini kamii
Air terjun pertama
Anggota HIMAKEPJA
Menuju ke air terjun kedua
Foto bersama di air terjun kedua
Himakepja
Ekspresi kami broo
Gaya bebas
Sekian saja foto-fotonya ya, kalau penasaran dengan keseruan kami silakan berkunjung sendiri ya, hehehe

By: Arda Dwi Cahyo Ruspianof