Hari ini telah sebulan lebih aku dan enam setengah juta
lebih rakyat di Riau menghirup pekatnya kabut asap. Sebulan lebih kami
beraktifitas harus menggunakan masker. Pendidikan di Riau sempat lumpuh
akibat semua intansi pendidikan diliburkan sementara. Salah satu bandara
tersibuk di sumatera pun tak luput harus ditutup akibat pekatnya kabut asap.
Para nelayan harus menyandarkan perahunya di dermaga karena jarak pandang di
tengah laut yang hanya beberapa meter. Miris memang jika mendengarnya, namun
apa yang harus kami buat sebagai rakyat kecil. Hari ini kami rindu langit rindu
kami. Kami rindu udara segar kami. Kami rindu beraktifitas tanpa penghalang
kabut asap.
Friday, 16 October 2015
Wednesday, 9 September 2015
LANGITKU (RIAU) YANG MERANA
Ketika aku
menatap kelangit, aku melihat birunya langit dan putihnya awan saling
berkejaran. Hangat sinar matahari mulai menerpa kulitku, menandakan aku telah
terbangun dari tidur panjangku dimalam yang indah. Hembusan angin yang menerpa
ujung-ujung dedaunan menambah indah suasana pagi ini. Kicauan burung yang
begitu riuh dan gemericik air yang berirama menjadi alunan nada yang indah. Terima
kasih kepada sang pencipta yang telah memberi kenikmatan seindah ini.
Namun dipagi
ini saat ku kembali melihat mahakarya-Mu yang begitu indah, semuanya telah
berubah. Langit yang biru dan awan yang menawan telah berubah menjadi kepulan
asap tebal yang membahayan. Pagi ini aku tak bisa lagi melihat indahnya langit
Riau yang biru. Aku tak bisa lagi menghirup segarnya udara riau yang selama ini
diberi dengan geratis oleh sang pencipta.
Asap tebal tak
lagi hanya ada diudara, namun telah memenuhi segala ruang rumahku, rumah jutaan
penduduk Riau ini. Kami tak bisa lagi menghirup udara segar dan sehat. Udara
sehat telah terkontaminasi oleh asap dan partikel debu yang jelas sangat
membahayakan. Namun kami tak bisa tetap diam, kami harus tetap beraktifitas. Ratusan
ribu masker pun telah mereka bagikan dijalanan. Begitu sangat mulia mereka yang
saling membantu saudara kami. Aku acugkan jempol untuk kepedulian mereka para
relawan.
Mungkin jika
Riau selalu masuk berita nasional dan menjadi trending topik karena prestasinya
kami akan berbangga. Namun saat ini kondisinya berbeda, daerah yang sangat kami
banggakan, tanah yang memiliki kekayaan alam luar biasa, bumi yang mengandung
gas dan minyak bumi berlimpah, negeri kaya yang memiliki kebun karet dan sawit
serta hutan penghasil bubur kertas katanya. Provinsi yang katanya menjadi salah
satu penyumbang terbesar devisa negara. Entah lah itu, kami hanya rakyat kecil
yang tak terlalu paham tentang semua itu.
Disaat kami
sibuk memakai masker dan tetap menjalankan aktifitas sehari-hari, mungkin
mereka sedang duduk santai dimobil mewahnya. Tinggal menekan tombol kaca mobil
pun akan tertutup rapat. Udara segar pun keluar melalui lubang AC. Ruang kantor
pun tertutup dan disuplai oleh AC disana sini. Sungguh kontras dengan
saudara-saudara kami yang sibuk memadamkan api dilahan gambut. Perih mata
mereka untuk memadamkan api entah siapa yang membakarnya. Sibuk dijalanan yang
masih membagikan masker.
Ini bencana,
ini disengaja, terbakar atau dibakar, ini itu entah apa yang sedang
diperdebatkan. Yang jelas ini masalah yang sudah sering terjadi. Kami hanya
bisa berharap kepada siapa pun itu yang memiliki wewenang dan kewajiban untuk
menyelesaikan tugas ini. Mudah-mudahan anda selalu diberi kesehatan dan
semangat. Terima kasih atas tugas anda yang telah berusaha menyelamatkan hidup
kami. Dan untuk semua yang tidak sengaja berbuat ulah dan menimbulkan merananya
langit riau ini, segeralah bertobat dan jangan pernah berbuat salah lagi.
Mudah-mudahan Allah yang maha adil mengampuni.
Monday, 7 September 2015
(Horor) Semester 9
Hay para
pengunjung setia Arda Rokan Blog’s, pasti udah terlalu lama nungguin postingan
aku ya?? Hehe maaf udah agak lama gak posting tulisan, soalnya lagi disibukkan
tulisan lain yakni nulis novel best seller yang tebalnya ratusan halaman alias
lagi buat Laporan Kerja Praktek.
Ya,
bener banget. Aku akui, bukan hanya aku saja melainkan teman-teman senasib
sependeritaan memang disemester ini lagi sibuk banget yang namanya buat laporan
kerja praktek. Perlu diketahui, kami disemester sebelumnya (read: Semester 8)
telah melaksanakan kerja praktek selama tiga bulan. Nah sekarang disemester
sembilan ini pula kami sibuk menyelesaikan laporannya.
Itu
aja dulu tulisan aku kali ini, soalnya harus siapkan novel best seller lagi,
hehe. Oh ya, mohon maaf lahir dan batin bagi semuanya. Mudah-mudahan selalu
lanjar dalam menjalankan aktifitasnya, Amiin.
Rasanya
jika diingat-ingat tulisan yang bertemakan kuliah ceritanya lebih horor dari
film hantu kali ya. Tapi ya itulah adanya, perjuangan untuk dapetin gelar
sarjana teknik sipil ini butuh perjuangan yang benar-benar ekstra. Sembilan
semester ini telah banyak mengajarkan kami bagaimana menjadi mahasiswa teknik.
Cukup wow ternyata. Nah bagi kalian yang masih duduk dibangku sekolah aku
sarankan untuk pikir-pikir dulu deh sebelum ngambil jurusan ini.
Monday, 15 June 2015
Kehidupan Anak Kos Part 1
Saat kita kuliah di rantau
praktis membuat kita menjadi anak kos. Sepele memang kedengerannya, namun
banyak suka duka selama menjadi anak kos. Rasanya tak akan cukup kalo aku
ceritakan dalam satu judul ini saja. Kalo saya ceritakan semuanya, pasti bakal
jadi cerita yang sangat panjang bahkan bisa menjadi novel klasik ala anak kos.
Tapi baik lah, segelintir cerita tentang kehidupan anak kos akan aku kupas
ditulisan ini. Baik itu suka maupun dukanya.
Aku ngekos dalam
satu rumah dengan jumlah penghuni empat orang dan memiliki empat kamar juga,
otomatis kami memiliki kamar masing-masing. Meskipun demikian kami serumah
sudah bagai keluarga sendiri. Bagaimana tidak, interaksi dengan beberapa teman
kos yang berasal dari berbagai daerah membuat aku banyak belajar mengenal
kultur budaya, bahasa, adat kebiasaan, sifat dan perilaku masing-masing.
Apalagi aku telah menjadi anak kos sejak enam tahun lalu sebelum menjadi
mahasiswa. Yang pasti seruu bro.
Suatu hal yang
seru saat ngekos dengan banyak teman dari berbagai daerah ini biasanya saat
pulang dari kampung banyak yang membawa oleh-oleh. Baik itu makanan khas dari
daerah masing-masing atau bekal yang mereka bawa. Inilah salah satu momen yang
paling seru bagi anak kos, tentunya sangat menolong dikala persediaan logistik
panagn menipis.
Rasa kekeluargaan
dan kebersamaan antar sesama anak kos sangat aku rasakan. Yaya, mungkin karna
kami sama-sama senasib sepenanggungan. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku
tulis, untuk part 1 cukup sekian duu. Anggap sebagai pengenalan pertama. Next
time kita sambung lagi. Salam anak kos..!!!
Friday, 12 June 2015
Anak Teknik, Kapan Wisuda?
Apa yang kamu bayangin jika
mendengar kata wisuda? Haha, pastinya pake toga, foto-foto, dapat ijazah, dapat
ucapan selamat dari teman-teman dan lain-lain deh. Yang jelas jadi suatu yang
sakral bnget deh. Nah tapi kalo cuma datang buat menghadiri acara wisuda teman?
Pasti kamu bakal bertanya “kapan nih aku wisuda?” Haha.
Di dunia ini ada dua tipe
manusia,yang pertama adalah manusia yang akan termotivasi jika melihat sesuatu
yang diinginkan. Dan yang kedua adalah manusia yang biasa-biasa saja saat
melihat sesuatu yang diinginkannya. Nah kamu termasuk tipe yang mana? Kalo aku
sendiri sih kadang termotivasi untuk beberapa hari saja, intinya 50:50 lah.
Pasti kita sebagai mahasiswa
semester tua banyak yang nanyain “kapan wisuda?” atau “mau wisuda kapan?” mendapatkan
pertanyaan seperti itu sebenarnya biasa aja sih. Entah bagi kalian yang ngebet
banget mau cepet-cepet lulus, atau ntah alasan apalah itu. Perlu diketahui, aku
kuliah dijurusan yang agak ekstrim, yaitu jurusan Teknik Sipil. Konon katanya
jurusan-jurusan di teknik kuliah nya menyeramkan, lama lulus, susah dapet nilai
dan wisudanya lama. Yah, mitos itu kadang ada benernya juga, tapi banyak
salahnya juga.
Sesungguhnya cepat atau nggaknya
wisuda itu bukan kampus atau jurusan yang tentuin, tapi diri kita. Asal kita
ada tekad dan kemauan yang kuat pasti bisa melewati itu semua. Kuliah dijurusan
paling mudah pun bisa ada yang nyampe di DO, nah itu buktiin kalo jurusan bukan
sesuatu yang tentuin kapan kita wisudakan? Setuju? Haha, kok aku malah ceramah.
Friday, 9 January 2015
Borneo, Tunggu Aku
Jika ditanya sudah berapa jauh
kaki ini melangkah, maka jawabnya adalah sudah pasti tak hingga. Namun jika
ditanya sudah ke pulau mana saja kaki ini melangkah, maka aku bisa menjawab
pertanyaan itu dengan sangat mudah. Tentunya kakiku ini masih melangkah ke dua
pulau saja, yakni Sumatera dan Jawa.
Pulau
Sumatera sudah jelas pasti, sebab saya lahir dan besar dipulau yang dijuluki
Pulau Andalas ini. Tepatnya di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Dan saat
ini pun aku masih menetap di Pulau ini.
Sedangkan
Pulau Jawa yang merupakan pulau paling subur di Indonesia ini bisa dibilang
seluruh provinsinya sudah aku taklukkan. Mulai dari ujung barat yakni Provinsi
Banten hingga paling timur yakni Kabupaten Banyuwangi yang merupakan kampung
asal ayah saya pun sudah aku jelajahi. Karena memang di pulau inilah nenek
moyang dari orang tuaku berasal.
Jadi, meski
aku tidak lahir dan besar di pulau jawa namun secara ikatan darah masih ada
hubungan dengan orang-orang yang ada dijawa sana. Terutama di daerah Banyuwangi
dan Blitar. Blitar itu kediaman bapak proklamator lho, jadi kemungkinan ada
hubungan gak yaa, hehee.
Dan pulau
selanjutnya yang ingin saya jelajahi adalah Pulau Kalimantan alias Borneo.
Entah mengapa aku sangat ingin menginjakkan kaki di pulau ini. yang jelas pulau
ini memiliki banyak keunikan. Salah satunya ialah pulau ini dimiliki oleh tiga
negara yakni Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.
Borneo, wait me !!!
Wednesday, 7 January 2015
Hari Mencekam Diujung Semester
| Kami akan terus bersama |
Tulisan ini bukan akan
menceritakan tentang horor atau kejadian-kejadian aneh yang aku alami. Hanya
saja tekanan batin yang aku dan teman-teman alami diujung semester 7 ini yang
membuat aku menulis cerita ini. sebelumnya aku perkenalkan lagi, bahwa aku
adalah mahasiswa jurusan Teknik Sipil yang saat ini telah semester 7. Udah
cukup layak disebut mahasiswa tingkat akhir belum yaa, hehe.
![]() |
| Tugas numpuk namun masih sempat ngegame bro |
Hari-hari
yang aku dan teman-teman alami berlangsung biasa saja. Minggu dan bulan berlalu
begitu saja, sama seperti mahasiswa lainnya. Tidak ada yang beda, kami kekampus
dan kuliah seperti biasa. Canda tawa kami seolah kami menjadi mahasiswa yang
tak punya beban. Meski pelajaran kami tak ada yang mudah, 7 semester ini telah
mengajarkan kami semua untuk beradaptasi.
Namun saat
diujung menjelang ujian akhir semester 7, semua terlihat berbeda. Dimulai saat
mahasiswa fakultas lain sudah mulai ujian akhir semester. Tepatnya itu sebulan
sebelum fakultas kami memulai ujian. Sangat jauh memang jaraknya, namun bagi
kami itu sudah menjadi hal biasa.
Suasana
mulai berubah saat sebagian mahasiswa dari fakultas lain telah mulai libur.
Saat ada juga mahasiswa dari fakultas lain pula ada yang memulai minggu tenang
menjelang ujian akhir semester. Rasa iri mungkin sedikit kami rasakan saat
melihat mereka. Namun beban itu ditambah saat seharusnya kami libur minggu
tenang, walaupun itu mimpi bagi kami.
![]() |
| Saatnya serius kembali |
Bagaimana
tidak, saat itu kami justru mendapat tugas hampir dari semua mata kuliah. Itu
yang membuat kami merasa putus asa. Tugas yang datang bertubi-tubi, semua
datang secara bersamaan. Ditambah lagi kami masih tetap aktif kuliah dan harus
mengikuti beberapa kuis hingga menjelang hari H ujian. Itulah yang saat ini aku
dan teman-temanku alami. Semoga dengan tulisan ini semua menjadi tahu apa yang
kami alami. Kami memang terlihat santai dari luar, namun semua itu jauh dari
yang orang bayangkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)









